Rabu, 11 Februari 2009

Agar Urusan Haid Jadi Lancar

Masalah menstruasi sering bikin wanita frustasi. Kadang berbulan-bulan cuma datang sekali. Sekali datang, nyerinya tak terperi. Banyak wanita yang membiarkan saja masalah ini. Padaha di sekitar kita banyak tanaman yang bisa membantu mengatasi.
Datang maupun tidak, sama-sama tak enak. Begitulah menstruasi.... Dulu, manusia menganggap menstruasi sebagai hukuman terhadap Hawa, yang bersama Adam telah makan buah terlarang di surga. Konon, darah yang keluar adalah darah kutukan.Namun, ilmu pengetahuan modern membuktikan, menstruasi terjadi akibat siklus hormonal yang terjadi di dalam tubuh perempuan. Darah haid keluar bersama endometrium (lapisan rahim) yang luruh akibat turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron. Pada keadaan normal, datang bulan bertamu saban bulan.

Namun jika siklus hormonal mengalami gangguan, ia bisa telat. Pada sebagian wanita bahkan bisa telat sampai enam bulan.

Menjelang menstruasi, banyak wanita mengalami gejala-gejala perubahan emosi, seperti gampang sedih, dan mudah marah. Kerja tak bersemangat, suami yang tak salah apa-apa, dimarahi.

Saat menstruasi pula, tak sedikit wanita yang mengalami nyeri sampai harus cuti kerja beberapa hari. Sebagian yang lain, darah em-nya tak mau berhenti hingga harus bolak-balik menengok ke belakang, dan berkali-kali ganti pembalut. Pendeknya, masalah menstruasi bermacam-macam. Namun pangkalnya satu: gangguan hormonal.

Pada wanita-wanita pekerja di perkotaan, gangguan menstruasi adalah masalah yang lazim. Sama lazimnya dengan flu dan pilek. Ini terutama terjadi pada mereka yang sering stres, kurang olahraga, dan asupan gizinya tak seimbang. Semua masalah ini, tidak bisa tidak, punya andil terhadap perubahan fisiologis, termasuk perubahan hormonal. Sekali siklus hormonal terganggu, acara bulanan pun bakal ikut terganggu.


OBAT DARI PEKARANGAN

•Dalam konsep pengobatan tradisional Cina, gangguan menstruasi terjadi akibat “panas” yang berlebihan. Hal itu terjadi akibat ketidakseimbangan yin dan yang di dalam tubuh.

Karenanya, obat gangguan menstruasi adalah tanaman-tanaman yang punya sifat mendinginkan.

Saat ini di pasaran tersedia banyak produk obat herbal yang ditawarkan untuk mengatasi masalah ini. Banyaknya ragam pilihan membuat wanita juga semakin bingung untuk memilih yang cocok.

Tak banyak yang menengok kekayaan obat tradisional di sekitar kita. Padahal, jika kita menengok pekarangan rumah, kita bakal menjumpai tanaman yang bisa membantu mengatasi problem kewanitaan ini. Salah satunya adalah Cyperus rotundus. Kita menyebutnya rumput teki. Bagian yang bisa digunakan adalah umbinya yang mengandung alkaloid, flavonoid, sineol, pinen, siperon, rotunal, siperenon, siperol.

Kita mengenal tanaman ini sebagai tanaman liar yang tumbuh di sembarang ternpat. Kehadirannya sering dianggap sebagai gulma atau tanaman pengganggu yang layak dicabut atau dibuat sebagai makanan ternak. Nama lainnya musta, mustaka, kobushi, nutgrass, tiririca, nutsedge, purple nutsedge, dan adru.

Dalam konsep pengobatan tradisional Cina, rimpang teki punya sifat mendinginkan. Secara empiris, teki telah lama digunakan masyarakat Cina dan India sebagai obat peluruh haid. Sebuah penelitian di Cina menemukan bahwa secara tunggal maupun kombinasi, 6 - 9 gram rimpang teki bisa membatu meringankan ketidakteraturan siklus haid, serta meringankan premenstrual syndrome (PMS).

Selain sebagai obat khusus wanita, rimpang teki juga sering dipakai untuk meningkatkan nafsu makan, diare, demam, gangguan pencernaan, dan penyakit hati. Di India, teki juga digunakan sebagai produk perawatan rambut dan kulit. Kandungan minyak asirinya juga bisa digunakan sebagai parfum.

Di India, rimpang teki tersedia dalam bentuk obat jadi, misalnya produk Musta root powder dan Evecare. Di Amerika Serikat, rimpang teki juga tersedia dalam bentuk obat siap minum, seperti U-O Clear. Produk-produk ini ditawarkan untuk membantu meringankan masalah menstruasi dan gangguan hormonal wanita, termasuk kista indung telur dan endometriosis.

Karena masih belum banyak penelitian, kandungan teki ini masih menjadi teka-teki. Namun dalam pengobatan tradisional Tiongkok maupun India, keampuhan rumput teki telah lama diakui secara empiris untuk mengatasi masalah-masalah kewanitaan.


OBAT DARI DAPUR

• Selain dari pekarangan rumah, gangguan menstruasi juga bisa diringankan dengan rempah-rempah dan sayuran yang tersedia di dapur.

Dari deretan rempah-rempah, terdapat adas (Foeniculum vulgare), ketumbar (Coriandrum sativum), dan cengkih (Syzigium aromaticum).

Semua rempah ini di lidah terasa manis dan hangat. Dalam konsep pengobatan Ayurveda, sesuatu yang hangat di lidah punya efek mendinginkan di dalam tubuh. Efek inilah yang bisa dimanfaatkan untuk “mendinginkan” tubuh dan mengurangi gangguan menstruasi.
Adas biasanya digunakan sebagai obat kembung, diare, radang saluran napas, dan batuk. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Indian Journal of Physiology and Pharmacology, ekstrak biji adas punya efek estrogenik. Efek inilah yang diduga berkaitan dengan manfaat adas untuk menormalkan siklus menstruasi.

Selain rempah-pawah di atas, masih banyak unsur dapur lain yang bisa dipakai. Sebut saja bayam , bawang merah, jeruk nipis, blustru (Luffa cylindrica), beluntas (Pluchea indica), dan kedelai (Glycine max). Daftar tumbuhan di atas adalah unsur-unsur yang biasa terdapat di dalam makanan kita.

Khusus kedelai, ia paling bagus dikonsumsi sebagai tempe. Selain sebagai sumber multivitamin, makanan tradisional ini juga kaya senyawa steroid. Jika rumput teki harus diminum sebagai jamu, golongan rempah dan sayur mayur bisa digunakan tanpa ada rasa minum jamu. Mereka bisa masuk ke dalam menu makanan sehari-hari. Jenis masakan tergantung selera. Sayur bening oke, urap monggo, Semur bumbu cengkih pun bisa saja.
Berobat dengan makanan jelas punya banyak keuntungan.

Siklus hormonal wanita terjadi secara terus-menerus. Jika gangguan menstruasi hanya terjadi jarang-jarang, pemakaian jamu mungkin tak akan membawa masalah. Namun jika gangguan menstruasi terjadi berulang-ulang, maka cara yang lebih baik adalah dengan minum jamu yang terbukti aman dikonsumsi terus-menerus.

Jika seorang wanita langganan gangguan haid, dia tidak hanya butuh jamu untuk pengobatan. Yang lebih penting adalah jamu untuk pencegahan dan perawatan. Dibandingkan dengan obat kimia sintetis ataupun jamu, keamanan rempah-rempah dan sayuran di atas jelas tak perlu diragukan. Bahan makanan bisa dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari.

Pola makan alami inilah salah satu rahasia, mengapa wanita-wanita tradisional lebih jarang terkena gangguan haid daripada wanita modern yang suka makan ala cepat saji. Secara tidak langsung, bumbu makanan dan sayuran yang mereka santap sehari-hari juga berfungsi sebagai jamu.

Sayangnya, cara masak dengan rempah-rempah kini mulai ditinggalkan. Resep masak masa kini lebih didominasj oleh bumbu- bumbu instan dan bahan olahan.
Terakhir, berobat lewat makanan juga lebih bersahabat buat lidah. Dengan cara ini, kita bisa mengobati masalah kesehatan tanpa terasa minum yang pahit-pahit. Hipocrates, Bapak Kedokteran, 24 abad yang lalu punya saran yang masih sangat relevan, “Let food be your medicine, and your medicine be your food”.

BEGINILAH CARA PAKAINYA

RUMPUT TEKI
1. Keringkan rimpang teki.
2. Blender atau tumbuk sampai halus.
3. Rebus 5 - 10 gram bubuk rimpang teki dengan dua gelas air hingga tersisa separuhnya.
4. Dinginkan, saring lalu minum air rebusannya.
5. Lakukan ini dua kali sehari, pagi, dan sore.
6. Sebagaimana obat tradisional yang lain, minum air rebusan rimpang teki harus tetap hati-hati. Meski diyakini aman, sebaiknya kesehatan terus dipantau. Jika muncul sesuatu yang tak beres, hentikan sementara, dan segera periksakan diri ke dokter.

GOLONGAN REMPAH
Selain bisa dipakai sebagai bumbu masak, rempah-rempah di atas juga bisa dipakai sebagai jamu. Caranya:
1. Tumbuk adas, ketumbar, dan cengkih, masing-masing sejumput.
2. Rebus dengan air, dinginkan, saring, dan minum air rebusannya.
3. Lakukan sehari 2 - 3 kali.

Sekadar catatan, pemakaian adas dalam jumlah banyak kadang bisa membuat peminumnya sering buang angin dan bersendaWa. Ini harus diperhitungkan jika tak ingin mendengar celetukan, “Cantik-cantik kok bocor.”

BLUSTRU
1. Cuci buah blustru ukuran sedang, lalu parut.
2. Tambahkan setengah cangkir air masak dan garam seujung sendok teh.
3. Remas sampai halus. Setelah tercampur rata, peras dan saring.
4. Minum sekaligus air yang terkumpul. Lakukan tiga kali sehari.

DAUN BELUNTAS
1. Cuci dua genggam daun beluntas, lalu tumbuk sampai halus.
2. Tambahkan air masak 1,5 gelas dan garam seujung sendok teh.
3. Peras dan saring, lalu minum tiga kali sehari, masing-masing 0,5 gelas.

JERUK NIPIS
1. Campurkan dua sendok makan air perasan jeruk nipis dan tiga sendok makan madu.
2. Seduh dengan 1,5 cangkir air panas, lalu aduk sampai rata.
3. Setelah dingin, minum tiga kali sehari, masing-masing sepertiganya.

ANTIKISTA INDUNG TELUR
Kista indung telur tergolong tumor jinak. Sekitar 40% wanita berusia 20 - 50 tahun pernah mengalami penyakit ini. Gejalanya, timbul pembengkakan, ketegangan, kram, atau sakit pada daerah pinggul saat datang bulan, disertai demam, gelisah, dan capek, serta penggumpalan darah menstruasi.

Gejala-gejala itu timbul baik pada menstruasi yang datang telat maupun tepat waktu. Karena tergolong tumor jinak, kadang gejala kista indung telur tidak muncul dan mengganggu. Penderita masih bisa melakukan aktivitas secara normal.
Untuk memastikan kista indung telur, penderita sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan (obstetri & ginekologi). Hingga saat ini, terapi yang telah terbukti bisa menyembuhhan penyakit ini secara tuntas adalah operasi histerektomi.

Obat-obat yang ada hanya bersifat meringankan gejala dan menekan pertumbuhan tumor. Dalam hal ini, rimpang teki diyakini bisa membersihkan kotoran pada organ kewanitaan, terutama di saluran telur (uterus) dan indung telur (ovarium).
Tentu saja, manfaat rimpang teki bisa optimal jika kista masih pada tahap awal. Jika kista telah parah, jalan terbaik adalah operasi. Pemakaian rimpang teki bisa dilanjutkan untuk mencegah tumbuhnya kista lagi.*

Penulis: Ir. Heru D. Wardana, M.Hort.Sc., peneliti tanaman obat, di Jakarta
(http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0601/26/105540.htm)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar